Kamis, 19 Mei 2022

Ulang Pantun

Oleh : Dahlan Iskan

DISWAY setahun terakhir diwarnai oleh pantun. Anda sudah tahu: pemicunya pembaca kita yang bernama Thamrin Dahlan.

Awalnya bertepuk sebelah tangan: tidak ada yang menghiraukan. Mungkin karena pantunnya sarat dengan nasihat.

Pak Thamrin tidak putus asa. Ia terus saja berpantun. Sampai kemudian ada yang ”menegur”: mana pantunnya. Rupanya hari itu Pak Thamrin berkomentar tanpa pantun.

Berarti pantun Pak Thamrin sebenarnya tidak diabaikan. Sampai pada suatu saat muncul Aryo Mbediun: sekali muncul, muncul sekali ­–sangat muncul. Mulailah terjadi variasi: muncul pantun jenaka, pantun pasemon, pantun rayuan, pantun cinta, dan pantun plesetan.

Tentu saya juga sering berpantun: kalau lagi pidato di Riau dan Riau Kepulauan. Di sana hidup penuh dengan pantun. Ibarat ikan dan air, pantun adalah air bagi manusia Melayu.

Dan Riau adalah pusat Melayunya Indonesia. Pada zaman kejayaan Melayu, Singapura itu adalah salah satu kabupaten kerajaan Riau. Demikian juga Johor, Negeri Sembilan, Melaka, pun sampai ke Selangor.

Untuk budaya Melayu ini saya selalu berkibar ke satu nama: Rida K. Liamsi. Ia sastrawan Melayu yang istimewa di mata saya. Waktu saya angkat menjadi direktur utama Riau Pos pun hidupnya terus diabdikan untuk budaya Melayu. Pun setelah ia berhasil mengembangkan banyak perusahaan di bawah grup Riau Pos: perusahaan terus berkembang, sastra Melayu terus melaju.

Saya pun minta Pak Rida untuk memberikan pandangan soal pantun yang tiba-tiba mewabah di kolom komentar Disway. Ia sekarang tinggal di Tanjungpinang – -pernah jadi ibu kota kerajaan Melayu. Ia membaca Disway tiap hari. Ini komentarnya:

Ada sebuah ungkapan yang sangat dikenal di dunia Melayu: ”Kalau tak pandai berpantun, jangan mengaku orang Melayu”.

Adagium ini menunjukkan bagaimana pantun telah memegang peran penting dalam kehidupan sehari hari masyarakat Melayu. Bagi mereka, jika hendak dipandang sebagai orang yang berilmu dan berpengaruh,  harus tahu bagaimana menafsir pantun. Juga harus tahu bagaimana cara membalas pantun. Pun bagaimana cara mengemas pantun. Itu juga penting bagi yang ”hendak berada di tengah balai (tempat terhormat)”.

Pantun itu harus dipelajari. Cara berpantun dan cara menyampaikan pantun, akan menunjukkan kadar dan kelas  dalam kehidupan bermasyarakat.

Artinya, berpantun itu tidak boleh sembarangan. Ada aturan, dan kaedahnya, terutama pada sampirannya. Dari pantun diketahui berilmu tidaknya yang berpantun. Jika tidak, dia akan ditertawakan orang.

Lihatlah pantun ini:

”Pucuk pauh delima batu

Anak sembilang di tapak tangan

Biar jauh beribu batu

Hilang di mata di hati jangan“

Ini pantun lama yang sangat dikenal di dunia Melayu. Bukan saja karena isinya yang menunjukkan bagaimana perasaan rindu itu tak kenal batas dan waktu. Tapi juga lihatlah sampirannya. Yang sarat makna.

Ikan sembilang itu punya sengat yang berbisa, tapi kenapa boleh diletakkan di telapak tangan? Ternyata pucuk pauh dan delima batu itu adalah penawar racun.

Itu contoh sampiran pantun yang sangat berkualitas dan sampiran (pembayang) yang menunjukkan pencipta pantun itu berilmu.

Karya sastra yang demikian itu, menempatkan pantun sebagai salah satu karya sastra lisan dunia melayu paling tua. Lebih tua dari syair dan genre sastra lama. Sejak lahir orang Melayu sudah diajar berpantun. Lagu nina bobok anak mereka sarat dengan pantun. Pantun nasihat , pantun kasih sayang, dan lainnya.

Pantun memang salah satu sarana berkomunikasi dalam masyarakat Melayu. Cara berbahasa, cara bertutur kata, cara menyampaikan pendapat dengan santun, melalui kiasan, dengan sindiran, ajuk mengajuk, dan juga boleh menjadi sebuah ”tamparan”yang memalukan. Menghina pun bisa dengan pantun.

Pantun termasuk karya sastra melayu lama yang bermula dari tradisi lisan.  Setelah ditemukan tradisi tulis melalui huruf arab melayu dan huruf rumi (latin), pantun mulai ditulis dan dibukukan. Tapi dalam praktik budaya melayu sehari-hari pantun tetap disampaikan secara lisan. Dalam percakapan sehari hari. Dalam acara perkawinan. Dalam cara berkasih sayang. Dalam pidato. Bahkan dulu,  berperang juga dimulai dengan berpantun. Yakni untuk membakar semangat, untuk mengejek dan memanas manaskan lawan. Seperti dulu dalam perang Raja Kecik (Siak) dengan Tengku Sulaiman (Riau).

Baca juga :   Drone Kamikaze

Sekarang tradisi berpantun  masih hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat Melayu, terutama di Kepulauan Riau. Terutama untuk tradisi perkawinan . Menghantar mas kawin dan lainnya, juga dilakukan dengan pantun. Berbalas balas antara pihak pengantin lelaki dan perempuan. Sumbang kalau perkawinsn tidak ada tradisi berpantung. Pemantun merupakan profesi yang sangat diminati.

Sekarang pantun sudah menjadi Warisan Dunia Tak Benda. Orang pertama di dunia Melayu yang mengumpulkan dan menerbitkan pantun sebagai buku adalah Engku  Muda Haji Ibrahim. Ia seorang pembesar di kerajaan Melayu Riau yang hidup sezaman dengan Raja Ali Haji, dan kemudian disebut  sebagai bapak pantun melayu modern.(Dahlan Iskan)

 

Pantun Ulang Tahun Disway:

 

Ada gula ada semut

Semut mati disemprot racun

Kepalaku senat senut

Diminta Pak DI buat pantun

 

Saat melamun ingat Alay

Disapa istri jadi tersipu

Selamat ulang tahun Disway

Semoga sukses selalu.

 

Iran ibu kotanya Teheran

Ada onta juga kalkun

Sungguh saya merasa heran

Dia ultah kok kita berpantun

(Cak Mul Aryo Mbediun)

 

Naik mobil warna merah

Kalau Disway ulang tahun

Mbok ya bagi bagi hadiah

 

Kacang kedelay di dalam kotak

Kacang panjang hijau warnanya

Ayo ayo cobalah  ditebak

Yang punya Disway sapa namanya

 

Apa yang slalu tegak berdiri

Saat dekap istri dimalam hari

Ini bukan sajak atau puisi

Ini hanya pantun teka teki

 

Jangan bening sambal teri

Makan cap cay di malam hari

Kepala pening tiap hari

Namun ada disway yang slalu temani

 

Sandal baru berbau harum

Sandal lama putus talinya

Saya bayangkan Abah tersenyum

Sampai terlihat gigi palsunya.

(Wkwkwk… Kabooooor )

 

Kelapa tua kelapa muda

Diperas santannya melimpah

Tua muda tiada beda

Perbanyak ibadah juga sedekah.

 

Jahe bakar jeruk purut

Jadi bumbu ikan tengiri

Jangan bertengkar juga ribut

Mari bersatu membangun negri

 

MS Kabat nama lelaki

Kalau bicara slalu terukur

KS mendebat Buzz NKRI

Semoga mereka cepat akur.

(Leong Putu)

 

 

Ke Pasar Minggu Beli Pepaya

Pepaya Merah manis Rasanya

Dirgahayu Disway Tercinta

Sehat selalu, Abah sang Penulisnya

 

Ke SCBD Naik Busway

Jangan lupa mampir ke Pinang Ranti

Siapapun suka baca Disway

Paling enak dibaca pas pagi hari.

(Sadewa)

 

 

Buat Disway:

Anak sekolah ramai berpawai

Makin meriah saat karaoke

Selamat ultah wahai Disway

Bertambah usia semakin oke

 

Pagi hari kapal berlabuh

Penumpang turun berbaju lusuh

Tetap baca di waktu subuh

Walau istri bertampang rusuh

 

Buat Abah:

Banyak harta jangan dihambur

Otak diasah bermain catur

Buat Abah yang suka lembur

Jaga stamina makan teratur

 

Lari pagi bersama-sama

Pakai deker pencegah luka

Kalau pergi kemana-mana

Masker dipakai jangan dilupa

 

Buat pembaca Disway:

Ke tengah sawah tangkap belalang

Belalang coklat kulitnya belang

Jangan biarkan semangat hilang

Kerja keras membanting tulang

(Mbah Mars)

 

 

Kayu trembesi kayu tahun

Daunnya rimbun dimakan ulat

Baca juga :   Disway Baru

Ayo bikin selusin pantun

Untuk ultah Disway yg ke-empat

 

Bandeng presto campur manggis

Pasti asam tak enak dimakan

Pesanku pada para pantunis

Jangan bikin pantun sembarangan

 

Nyolong pemean jarik katun

Isine ming kotang

Sak abot-abote nggawe pantun

Dadi enteng setelah madang

 

Sego pecel

Lawuh sukun

Duit ra nyekel

Kon nggawe pantun

 

Komentar uwu harus di-reply

I love you disway

 

Kain katun buatan Kroya

Disway ulang tahun aku bahagia

 

Buah pare dicampur bihun

Sedap rasanya dioles zaitun

Teruntuk Disway selamat ulang tahun

Maaf kadonya sebecak pantun

 

Makan sirih masak mendidih

Geli hati lihat beruang manyun

Jangan nangis jangan sedih

Musangking sebagai hadiah ulang tahun

 

Nonton wayang

Sambil makan pepaya

Disway sayang……

Met ultah yaaa.

 

Lewati dusun menghadap pak Jokowy

Jalan TOLnya hebat sungguh menakjubkan

Selamat ulang tahun Disway

Semoga hebat diliputi keberkahan

 

Membeli coklat di pasar minggu

Tidak lupa membeli pita

Happy Milad Disway belahan jiwaku

Semoga tercapai segala cta-cita

 

Memetik jambu lalu dimakan

Sambalnya kecap enak sekalay

Sepenuh hati aku haturkan

Selamat ulang tahun padamu Disway

 

Kain tenun depan optik melaway

Membeli tas di jalan angsa

Selamat ulang tahun Disway

Teruslah berkomitmen untuk kemajuan bangsa

 

Ada cewek orangnya santun

Wajahnya sangay gaunnya oren

Seluruh komentator mengucapkan ulang tahun

teruntuk Disway yang emang keren

 

Pulang kerja dari Njabalekat

Disambut istri dibelai manja

Disway keren ulang tahun ke-empat

Semoga berkah dan semakin jaya

 

Dua tiga kucing meloncat

Rebutan makan kue coklat

Selamat hari jadi yang ke-empat

Untuk Disway yang hebat

 

Putri anggun indah berkebaya

Tersenyum simpul cantik rupawan

Disway empat tahun berkarya

Tetaplah up date yang saru jangan terlupakan

 

Terasa lapar makan coklat

Makannya roti minumnya salat

Happy birthday Disway Tianjinheart

Kalau komentar ingat akhirat

 

Buah semangka semanis gula aren

Gak nyangka dah empat tahun berkomitmen

 

Jalan-jalan ke kota Solo

Putar balik ke kota Batu

Begitu nasib seorang jomlo

Disway ultah hanya bisa scrool-scrool melulu

 

Hari rabu pergi ke Surakarta

Naik bus sambil bercerita

Yang masih jomblo apa kabarnya

Di komentar Disway kalian bisa mengejar cinta

 

Sayur pare campur mihun

Terasa sepat salak pondoh

Ketika Disway ulang tahun

Ada komentator bertemu jodoh

 

Kenapa akhiran pantun

Hurufnya selalu sama

Padahal yang selalu sama

Belum tentu bersama

#bukan pantun

Mentaway di ujung Sumatra

Indah nian di tepi samudra

Selamat ulang tahun Disway tercinta

Kapan gus Dahlan bagi-bagi sepeda

 

Dari Bugis menuju ke Paris

Awalnya pantunis ujungnya komisaris

#ora nggubris

 

Dari Portugis menuju Indonesia

Sekarang pantunis besoknya amnesia

 

Usai minum kopi

Langsung naik busway

Dunia terasa sepi

Kalau tidak baca Disway

 

Becik ketitik

Olo rupamu

Disway dah baik

Mendidik dan bermutu

 

Suwe ora jamu

Jamu pisan godong pare

Suwe ora ketemu

Ketemu pisan battle di komen Disway

 

Satu titik dua koma

Disway unik sahamnya milik siapa

 

Makan ketan di pinggir kali

Pak mantan tampil di Disway dah beberapa kali

 

Tong kosong nyaring bunyinya

Kalau waktumu kosong boleh dong disway jadi isinya

 

Degan ijo ara’ne degan

Gus Dahlan memang andalan

 

Buku saku resep capcay

Penulisnya orang Karangjati

Waktu pertama baca Disway

Ternyata kok langung jatuh hati

 

Masak ayam masak capcay

Iris tipis sampai habis

Baca juga :   Era 1.000 Km

Tiap pagi baca Disway

Membuat pikiran jadi kritis

 

Makan kari pakai cabay

Tidak lupa kuah santan

Lebih baik baca Disway

Daripada searching story mantan

 

Memasak ikan di atas peti

Tambah asoy berkat sambal terasi

Gaya senam gus Dahlan seperti selebriti

Artikel Disway mantap berisi

 

Selamat datang di kota Minang

Buat komentator yg kami hormati

Wartawan hebat pasti dikenang

Mereka berjuang sepenuh hati

 

Berakit-rakit ke hulu

Berenang-renang ke tepian

Gimana negara mau maju

Baca Disway modal wifi gratisan

#fasilitas RT len

 

Di dinding batu kita berkemah

Bisa aman saat hujan

Saatnya Disway berbenah

Bersatu membangun kekuatan

#team kompor mbledug

 

Kalimas airnya bening

Di hulunya banyak batu

Disway tidak boleh hening

Kalau hening berarti ada “sesuatu”

 

Sayur pare warnanya biru

Buah naga warnanya ungu

Di disway ada paragraf saru

Para jamaah auto menyerbu

 

Ada cabay dijual kering

Menimbun sembako itu batil

Di disway ada postingan bening

Alamat Kim Yong Un khan segera tampil

 

Pemanen cabay tak selalu wanita

Musim panen sangat menentukan

Disway tak melulu berita

Liputan jalan-jalan jadi hiburan

 

Tuna bakar enak terlihat

Apalagi dioles sambal matah

Disway menjembatani suara rakyat

Jembatan rakyat dengan pemerintah

 

Sepagi habis dua cangkir kopay

Siangnya makan ampela ati

Bikin pantun di ultah disway

Seperti sedang ujian skripsi

 

Dari Madiun menuju Banda Aceh

Jangan lupa beli mie sedap

Buat apa pergi ke Banda Aceh

Kalo cuma beli mie sedap

#Kwkwkwkwkwkw

 

Mlaku2 tuku paku

Mampir pasar tuku mrico

Yen konco maido aku

Yo emang githu si Aryo

 

Di langit ada pelangi

Tak lupa kuhitung warnanya

Cukup sekian dari kami

Terima kasih atas perhatiannya

(Aryo Mbediun)

 

 

Jendral Suharto  dulu komandan

Presiden Indonesia  senyummu Jenderal

Joko Intarto diberi gelar Bidan

Pencetus berjasa Disway terkenal

 

Ingatan hilang  ketika melompat

Naik busway  tujuan Pamulang

Selamat  ulang tahun ke empat

Semoga disway semakin cemerlang

 

Pekerjaan pindah karena musibah

Mantan pejabat tak punya kantor

Semua sudah tahu kehebatan Abah

Disway  hebat kontribusi komentator

 

Pulau Bahari negeri perca

Nelayan muda perahu pinisi

Setiap hari disway.id dibaca

Tidak ada berita hoaks disini

 

Ketumbar merica bumbu masakan

Masakan Mama menambah selera

Berdebar baca komentar pilihan

Berharap nama awak  tertera

 

Pematang perigi sawah mertua

Penen raya  petani sukacita

Disway  berbagi tulisan terkemuka

Pembaca percaya kebenaran berita

 

Motor riders ponselnya nokia

Sirkuit  Mandalika tantangan mania

Silent readers disway siapa dia

Bisa jadi penguasa juga pengusaha

 

Anak lelaki beri nama Aditya

Putri Abang  dipanggil Tamita

Jurnalis terkini berita terpercaya

Disway.id penyeimbang kabar berita

 

Bukan dilarang Anda mengutip

Cantumkan nama itulah peradaban

Pemerintah diam diam mengintip

Disway.id menjadi rujukan kebijakan

 

Ahmad Albar dendangkan Zakia

Rambut kribo asli Indonesia

Perilaku penggiat sosial media

Asyiek sendiri tak peduli dunia

 

Ayo hijrah untuk dapatkan kerja

Tekad  yakin  tidak  peduli dimana

Semoga Abah selalu sehat sejahtera

Disway id semakin bermanfaat  mandraguna

 

Hansip desa sesuai kriteria

Wajah brewok mirip Gatotkaca

Abah dan kometator juga manusia

Mohon maaf  bila salah salah kata

 

Sopan santun pribadi asli Indonesia

Sikap kasih sayang kita kedepankan

Berbalas pantun disway.id  ceria

Terima kasih Bapak Dahlan Iskan

 

Sebelum baca berita harian

Baca dulu tulisan Pak Dahlan Iskan

Niat berbagi pengetahuan pengalaman

Tulus ikhlas semata untuk kemaslahatan

(Thamrin Dahlan)

Berita Terkait

Takut Sakit

Menu Mandoti

Together Stronger

Disway Baru

spot_imgspot_img

Berita Terbaru

spot_img