Kamis, 26 Mei 2022

Arsitek Atasan

Oleh : Dahlan Iskan

BEGITU banyak gagasan wali kota yang arsitek ini: Danny Pomanto. Saya lihat baliho di tengah kota: Makassar Menuju Kota Metaverse. Saya belum pernah mendengar Makassar pernah menjadi smart city. Apakah Makassar akan langsung melompat ke kota metaverse?

Di tengah tanda tanya besar itu saya dapat telepon: diundang makan malam di rumahnya. Senin malam.

Ternyata Danny serius. Ia sudah menandatangani kerja sama dengan perusahaan teknologi metaverse terkemuka Indonesia: WIR Group. Yang dipimpin Daniel Surya itu.

Kelak, kata Danny, semua dinas kota akan dimasukkan ke dalam sistem metaverse. Pelayanan apa saja tidak perlu bertemu pejabat.

Tahun ini kota metaverse itu  dimulai dari satu dulu: Dinas Pariwisata. Dinas ini dipilih duluan untuk mempercepat peningkatan kesejahteraan rakyat. Pariwisata itu terkait langsung dengan usaha rakyat: hotel, kuliner, kerajinan, dan UMKM.

Danny juga akan bekerja sama dengan perusahaan penerbangan. Khususnya yang jurusan Makassar –dari mana saja. Begitu penumpang masuk pesawat diberi VR –seperti kacamata itu. Selama penerbangan mereka bisa melihat metaverse Makassar di sektor pariwisata. Semua akan muncul di VR. Hotel mana pun, makanan apa pun, objek wisata di mana pun. Lengkap dengan avatar masing-masing. Yang bisa ditanya langsung oleh pemakai VR.

Sebagai uji coba, Danny akan membuat 153 kendaraan listrik isi 12 orang: meta-pete-pete. Tahun ini juga. Pete-pete listrik itu akan mengelilingi pusat-pusat wisata, hotel, dan kuliner yang masuk program Makassar Meteverse. Penumpangnya diberi VR. Bisa melihat semua objek yang diinginkan. Dan bisa berdialog dengan avatar masing-masing objek.

Baca juga :   Perang Hati-hati

Sebenarnya Danny sudah menyiapkan itu sejak di masa jabatan pertama: 2014-2019. Selama jadi wali kota periode yang pertama itu Danny sudah masuk ke pelayanan digital cukup jauh: semua ketua RT ia belikan HP. Agar bisa berjaringan secara digital.

Ketika itu Danny sudah menerapkan sistem kesehatan digital. Hasil pemeriksaan dokter, hasil lab dan CT scan penduduk yang sakit dimasukkan ke dalam sistem digital Makassar. Dokter bisa membacanya di sistem. Lalu memberikan diagnosis: perlu tindakan apa. Secara digital pula.

Pengadaan HP untuk semua ketua RT itulah yang dipersoalkan. Danny dianggap curi start: untuk kampanye masa jabatan berikutnya.

Danny juga memasang 1.000 kamera di banyak sudut kota. Dan itu akan ditambah terus. Terungkapnya jaringan pengebom Kathedral Makassar berkat sistem digital itu. “Tidak sampai 6 jam, seluruh jaringan pengebom bisa diungkap,” katanya.

Danny ingat betul pagi itu. Ia lagi berangkat ke tempat pernikahan. Lalu menerima info dari jaringan digital itu. Sebelum 15 menit Danny sudah sampai Kathedral. Ia melihat sendiri serpihan mayat di sana. Jaringan digital merekamnya. Diketahuilah ke mana saja si pengebom memutar kendaraan pagi itu. Termasuk mampir mana saja.

Baca juga :   Telanjur Pelindo

Masih banyak gagasan di periode pertama Danny itu. Misalnya ia akan membangun twin tower 36 lantai di seberang Pantai Losari. Yakni di sebuah tanah oloran –tanah baru yang secara perlahan muncul sendiri dari dalam laut. Itu akibat pengendapan lumpur dari muara sungai yang tertahan arus laut. Ditambah reklamasi. Jadilah sebuah kawasan strategis untuk pengembangan kota baru: dari Pantai Losari bisa memandangnya. Hanya sepelemparan batu. Dari lokasi baru itu bisa memandang Pantai Losari. Yang gemerlap.

Gagasan lain Danny saat itu: membuat pembangkit listrik tenaga sampah. Untuk mengatasi sampah kota –tanpa APBD maupun APBN. Tidak seperti yang di Surabaya dan sembilan kota lainnya.

Pantai Losari sendiri akan ia sempurnakan. Danny yang dulu merancang desain Pantai Losari itu –ketika masih menjadi arsitek profesional lulusan Universitas Hasanuddin. Ia sering memenangkan lomba desain kawasan. Ia juga ingin ikut mendesain IKN. Tapi begitu mau mendaftar ia melihat persyaratan: izin praktik arsiteknya sudah mati. Ia lupa memperbaruinya karena sibuk sebagai wali kota.

Semua gagasan Danny itu kandas. Danny digugurkan sebagai calon incumbent. Mahkamah Agung menganggap Danny curi start. Padahal ia bisa menang besar –hasil jajak pendapatnya meyakinkan. Berbagai usaha ia lakukan: gagal. Jadilah Danny diwakili kotak kosong dalam Pilkada tahun 2019 itu.

Dan kotak kosong itu menang.

Baca juga :   Tanpa Nuklir

Dua pesaingnya gagal, termasuk

Munafri Arifuddin, ipar Ahsa Mahmud pengusaha besar Makassar itu.

Dua tahun berikutnya Makassar pun dipimpin wali kota sementara. Ide-ide Danny terhenti.

Baru di Pilkada tahun 2021 Danny maju lagi. Yang ia hadapi tiga pasang, termasuk Sang ipar. Danny menang mudah. Jadilah Danny Wali kota Makassar sampai hari ini.

Semua yang ia rencanakan di periode pertama pun ia lanjutan sekarang. Twin Tower, sampah, wajah baru Losari, Metaverse, dan pembenahan lapangan Karebosi.

Kalau saja tidak terjadi sesuatu, masa jabatan Danny baru akan  berakhir tahun 2026. Cukup untuk melaksanakan semua itu.

Masalahnya: akankah Danny terkena aturan Pilkada Serentak tahun 2024?

Danny pasrah. “Saya ikut kehendak Tuhan,” katanya.

Danny itu nama panggilan. Nama aslinya Mohammad Ramdhan Pomanto. Ia punya putri tiga orang: arsitek, calon arsitek, dan masih SMA.

Sudah dua arsitek yang berhasil memimpin kota: Bu Risma di Surabaya dan Danny di Makassar. Juga Ridwan Kamil di Bandung –meski keburu jadi Gubernur Jabar.

Kelebihan arsitek adalah: merencanakan secara detail, dengan visi yang utuh dan tidak mengabaikan hemat biaya.

Hanya kadang arsitek kalah dengan arsitek politik di atasnya. (Dahlan Iskan)

Anda bisa menanggapi tulisan Dahlan Iskan dengan berkomentar http://disway.id/. Setiap hari Dahlan Iskan akan memilih langsung komentar terbaik untuk ditampilkan di Disway.

Berita Terkait

Malu Apa

Sanksi Isolasi

IKN Sarung

Minyak DMO

spot_imgspot_img

Berita Terbaru

spot_img