Sabtu, 25 Juni 2022

一百二十

Oleh : Dahlan Iskan

SAYA tidak dijemput Robert Lai. Tanpa Robert, Bandara Changi terasa lebih sepi. Ia masih belum mau bertemu banyak orang. Demi sang istri –yang sangat rentan akan Covid-19.

Pun setelah Singapura dinyatakan merdeka dari pandemi. Orang-orang masih taat mengenakan masker. Atas kesadaran sendiri.

Saya berjalan di sepanjang Orchard Road. Malam hari. Juga keesokan paginya. Jarang sekali melihat orang yang tanpa masker. Padahal peraturan sudah memperbolehkan bebas masker di luar ruang.

Lalu-lintas di Singapura juga sudah hampir pulih. Sudah sekitar 80 persen. Mal-mal juga sudah di sekitar itu. Begitu banyak orang Indonesia: di jalan, di mal, di resto, di RS, dan di mana saja.

Banyak yang menyapa saya.

Banyak juga yang diam-diam memotret saya: mengirimkannya ke keluarga saya –untuk dikirim ke saya.

Di Ayam Hainan, saya bertemu orang Malang. Di Far East. Sebelah Grand Hyatt itu. Saya keduluan dibayari. Semua meja di resto ini ngomongnya Indonesia.

Di Paris Baguette ketemu orang Jakarta. Di mal 313 itu. Salah satunya menghampiri meja saya: hanya karena mendengar suara saya.

Di jalan saya ketemu orang Bangka yang kerja di Singtel. Ibaratnya, Singapura sudah seperti kita jajah sepenuhnya. Hidup Indonesia!

Untuk memesan tempat di restoran sulitnya bukan main. Teman saya, campuran dari Medan-Jakarta-Surabaya, harus bayar deposito untuk pesan tempat di resto masakan Jepang. Di sebelah Marriott yang baru itu. “Jangan sampai tidak datang ya. Deposito bisa hilang,” katanya.

Keesokan harinya, teman lama di Singapura, pengusaha besar, mengajak makan siang. Mintanya jam 11.00. Ia sudah punya jadwal lain pukul 13.00.

Penuh.

Semua.

Di mana-mana.

Akhirnya kami baru bisa dapat waktu jam 14.00. Sekalian biar ia rapat dulu.

Padahal belum ada turis dari Tiongkok. Belum ada juga yang dari Hong Kong. Atau Taiwan. Belum ada juga yang dari Jepang. Mereka, hari itu, belum boleh ke luar negeri.

Baca juga :   Perang Hati-hati

Sesekali kita jadi penjajah. Kalau pun tidak dari Indonesia penjajah lainnya adalah dari Vietnam. Pertanda ekonomi Vietnam juga masih bagus. Atau Thailand. Betapa padatnya Singapura kalau empat negara tadi sudah boleh mengirim turis.

Berangkat ke Singapura saya naik kelas ekonomi. Pakai Singapore Airlines yang paket murah. Penuhnya bukan main. Padahal pesawatnya sudah yang berbadan lebar: A350.

Bandara Juanda sampai kewalahan: kekurangan tenaga. Dari tiga mesin scanner untuk memeriksa barang milik  penumpang, hanya satu yang dijalankan. Yang lain tidak rusak. Hanya saja tidak ada yang mengoperasikan. Mereka telanjur mendapat pesangon. Akibat sepi berkepanjangan di kala bencana pandemi.

Di Singapura tentu saya juga menemui dr Ben Chua. Sudah tiga tahun tidak bertemu. Saya tidak ingin check-up. Saya tidak merasakan kekurangan apa pun.

Ring yang ia pasang di tubuh saya baik-baik saja –rasanya. Yakni ring sebanyak 670 buah itu. Yang pasang di sepanjang aorta saya: lebih setengah meter. Empat tahun lalu.

Sebelum Covid, dr Ben Chua memberi informasi: akan membangun klinik vascular sendiri. Yang lebih terjangkau. Sebagai ”protes” atas mahalnya biaya pengobatan di Singapura. Saya memuji niatnya itu.

Ketika klinik itu jadi, saya tidak bisa ke Singapura.

Pandemi.

Kalau pun saya sering meneleponnya, itu lantaran saya kena Covid-19. Awal tahun lalu. Di ledakan gelombang pertama: varian alpha. Saya sendiri bisa sembuh cepat. Tanpa menghentikan obat penurun imunitas –yang harus saya minum seumur hidup. Sejak 16 tahun lalu. Sejak ganti hati dulu.

Covid saya bisa berlalu. Tapi ada akibat ikutan: D-Dimer saya tinggi sekali. Sampai 5000. Padahal batas atasnya hanya 500.

Baca juga :   Aplikasi Migor

Setelah dicoba berbagai obat, akhirnya bisa turun. Hanya sampai 2.500-an. Tidak ada lagi jalan lain. Tidak juga ada keluhan apa pun.

Trus bagaimana lagi cara menurunkannya?

“Gampang. Tidak usah lagi periksa ke lab, hahaha,” ujar Mr Ben Chua.

Sejak itu saya tidak tahu lagi berapa level D-Dimer saya.

Saya juga tidak membicarakannya ketika bertemu dr Ben Chua Kamis lalu. Saya justru mengagumi penurunan berat badannya. Kok bisa menjadi begitu jauh lebih langsing.

“Saya lakukan puasa intermittent. Juga mengurangi karbohidrat,” katanya. Setidaknya sudah selama 2,5 tahun terakhir. “Berat badan saya turun 20 Kg. Masih harus turun lagi, kalau bisa 5 kg lagi,” katanya.

Ia pun membuat teh. Di belakang meja praktiknya, memang ada teko kecil dan beberapa mangkuk kecil. Ia masukkan Chinese tea ke teko itu. Ia tuangkan air mendidih dari boiler kecil. Ia tuangkan air teh itu ke mangkuk-mangkuk kecil.

Istrinya ikut ngobrol. Tidak ikut minum.

Sambil minum teh, saya minta cerita tentang kliniknya itu. Yang selama pandemi memiliki keunggulan: tidak perlu opname. Ia lakukan penanganan baru: satu hari selesai. “Ternyata orang senang. Selama pandemi, orang takut opname di RS,” katanya.

Ngobrol selesai. Saya harus tahu diri. Jadwal Ben Chua ketat.

Saya pun pamit. Yang penting kini saya sudah tahu ke alamat mana kalau saya harus mencarinya.

“Punya waktu?” tanyanya. Tentu saya punya waktu. Harusnya saya yang bertanya begitu padanya.

“Ada apa?” tanya saya balik.

“Kalau mau, saya lakukan MRI. Saya ingin lihat apakah Anda baik-baik saja,” katanya.

“Hahaha… Mau!” jawab saya.

Mesin MRI itu disiapkan. Masih kelihatan baru. Dipasang dua tahun lalu. “Waktu itu, jenis ini, hanya ada 4 di dunia,” katanya.

Baca juga :   Planetarium Walisongo

Jenis alat itu semua dokter tahu: Philips Azurion 7 C20 FlexArm. Populer dengan nama hybrid operating theatre atau angiosuite. Di Amerika disebut Office Based Labs (OBLs) atau Office-Based Cath Lab.

Saya ”ditembak” di alat itu. Langsung diajak melihat hasilnya: di layar komputer. “Bagus sekali. Gak usah khawatir,” katanya. Ia pun menyerahkan flash disk ke saya. “Ini copy hasil RMI tadi,” katanya.

Hari itu empat acara beres. Setiap selesai acara, saya lapor ke Robert Lai. Teman-teman yang saya temui itu adalah juga temannya. Lebih tepatnya: semua itu teman Robert Lai.

Robert pun tahu, ketika saya masih ada sisa waktu 2 jam. Yang kosong acara. Maka Robert menelepon penjual durian: apakah punya Musangking di luar musim durian seperti ini.

“Anda ke sana. Durian sudah siap. Saya sudah pesankan,” tulis Robert di WA-nya. Mau tidak mau, apakah pura-pura terpaksa, saya ke sana. Durian sudah dibayar. Sayang kalau tidak dimakan. Kebetulan ada dua teman asal Sichuan, Tiongkok, yang mau gabung di durian. Ia bekerja di Singapura.

Mereka bercerita, orang-orang Tiongkok kini gila durian. Itu dibenarkan oleh penjual durian.

“Durian terbaik Malaysia sekarang dikirim ke sana. Dengan harga lebih baik. Kami hanya dapat seperlimanya,” ujar penjual durian itu.

Selesai makan durian, acara makan malam sudah menanti. Teman lain yang dari Singapura akan bergabung. Demikian juga yang asal Fujian. Total 7 orang.

“Ini pasti seru,” kata saya dalam hati.

Acara makan malam itu pasti panjang. Pasti akan ada ”upacara” setelah makan. Tidak mudah berhenti. Khas mereka. Saya sudah hafal.

Saya pun bertanya pada tamu asal Sichuan itu: berapa persen orang Tiongkok yang kini suka durian.

“百分之一百二十,” jawabnya bercanda. (Dahlan Iskan)

Berita Terkait

Kakak Sofwati

Planetarium Walisongo

Keluarga Fisika

Dua Tinggi

spot_img
spot_imgspot_img

Berita Terbaru

error: Alert: Content is protected !!